Kamis, 01 Mei 2014

muted theory group

Nama : Sumartini (121211093) Kelas : KPI C Muted Group Theory Muted Group Theory adalah teori kelompok kebisuan (kelompok terpinggirkan) teori kelompok merupakan salah satu cabang tradisi kritis, karena ia menitik beratkan pada masalah yang berkaitan dengan kekuasaan dan bagaimana kekuasaan itu digunakan untuk melawan orang- orang. sementara para penganut tradisi kritis lainnya dapat memisahkan secara jelas antara siapa yang kuat dan memiliki kekuasaan dan siapa yang lemah yang tidak memiliki kekuasaan, dengan berbagai macam cara. sedangkan teori ini lebih memilih untuk memisahkan peta kekuasaan kedalam kekuasaan yang dimiliki lelaki dan perempuan. Karena lelaki memiliki kekuasaan yang lebih besar dari pada perempuan, maka dari itu, lelaki memiliki pengaruh lebih besar terhadap perkembangan kebahasaan, sehingga menghasilkan struktur bahasa yang bias lelaki, dan lebih memihak kepada kekuasaan lelaki. lelaki menciptakan kata - kata dan makna - makna yang kemudian akan terbentuk secara kultural dalam artian menjadi sebuah kewajaran secara sosial. dari bahasa tersebut, mereka akan mengekspresikan ide - ide mereka. disisi lain perempuan, tertinggal jauh atau ditinggalkan jauh dibelakang, mereka tidak diberi tempat untuk menciptakan makna - makna dan meninggalkannya tanpa makna - makna yang bisa mengekspresikan hal - hal yang unik bagi mereka. Teori kelompok bungkam berasal dari karya Edwin dan Shirley Ardener, para antropolog sosial yang tertarik dengan struktur dan hierarki sosial. Pada tahun 1975, Edwin Ardener menyatakan bahwa kelompok yang menyusun bagian teratas dari hierarki sosial menentukan sistem komunikasi bagi budaya tersebut. Kelompok dengan kekuasaan yang lebih rendah seperti wanita, kaum miskin, dan orang kulit berwarna harus belajar untuk bekerja dengan sistem komunikasi yang telah dikembangkan oleh kelompok dominan. Dengan mengubah generalisasi ini kedalam kasus tertentu mengenai wanita didalam budaya, Edwin Ardener mengamati bahwa antropolog sosial mengkaji pengalaman- pengalaman wanita dengan berbicara hampir secara eksklusif dengan pria. Karena itu, tidak hanya para wanita harus menghadapi kesulitan dari bahasa yang tidak sepenuhnya memberikan suara bagi pemikiran mereka, tetapi pengalaman mereka diwakilkan melalui sudut pandang pria. Bagi Edwin Ardener, kelompok yang bungkam dianggap tidak pandai berbicara oleh sistem kelompok bahasa yang dominan, yang tumbuh secara langsung dari pandangan terhadap dunia dan pandangan mereka. Bagi kelompok bungkam apa yang mereka katakan pertama kali harus bergeser dari pandangan mereka sendiri terhadap dunia dan kemudian diperbandingkan dengan pengalaman- pengalaman dari kelompok yang dominan. Karenanya artikulasi bagi kelompok bungkam merupakan hal yang tidak langsung dan rusak. Untuk alasan- alasan ini, antara lain MGT menyimpulkan bahwa wanita bungkam oleh bahasa mereka. Dua contoh dapat menjelaskan pemikiran ini. Satu contoh berasal dari karya Hillary Callan (1978), yang menyatakan bahwa perawat wanita yang memiliki kesulitan dalam menjalankan wewenang. Callan beragumen bahwa kesulitan ini bukan karena mereka tidak mampu melaksanakan atau memberi perintah, melainkan karena mereka mengalami ketegangan antara elemen- elemen dari definisi diri mereka. Contoh kedua berasal dari karya Helen Strek (1999), yang telah menghabiskan beberapa tahun mengumpulkan cerita- cerita melahirkan dari para ibu dalam suatu usaha untuk memahami pengalaman kelahiran dari sudut pandang para ibu. Bahkan, beberapa peneliti telah menyatakan bahwa pria juga dapat menjadi bagian kelompok bungkam. Radhika Copra (2001) mengamati isu- isu pembungkaman terhadap ayah yang merawat anak- anaknya. Copra berargumen bahwa wacana mengenai menjadi seorang ibu yang ditampilkan dalam buku Nancy Chodorow (1978), The Reproduction of Mothering, mereduksi si ayah menjadi “orang tak penting yang tak berwujud” yang kehadirannya “ dianggap sebagai ketidakhadiran, bila dibandingkan dengan keterlibatan ibu yang sangat vital. Chopra menyatakan bahwa wacana ini tidak hanya membungkam si ayah, melainkan juga gagal dalam membahas kegiatan seorang ayah didalam masyarakat lainnya atau dalam periode sejarah di mana ayah yang jauh dan diam tidak ada. Setelah karya mendasar Edwin dan Shirley Ardener dalam mengembangkan konsep – konsep dari teori kelompok bungkam, Cheris Kramarae (1981) membangun teori ini untuk berfokus khususnya pada komunikasi. Selain itu, sebagaimana dinyatakan oleh Kramarae, tujuannya lebih terbatas dibandingkan dengan tujuan Ardener, yang tertarik untuk menerapkan teori kelompok bungkam melintas banyak budaya. Minat Kramarae adalah dalam pertanyaan yang dikemukakan teori ini dan penjelasan yang diberikan bagi pola- pola komunikasi dikalangan dan diantara pria dan wanita di Inggris Raya dan Amerika Serikat. Untuk mencapai hal ini, Kramarae pertama- tama mengemukakan tiga asumsi yang ia yakini sangat sentral bagi teori kelompok bungkam :  Wanita mempersepsikan dunia secara berbeda dibandingkan pria karena pengalaman pria dan wanita yang berbeda serta adanya kegiatan- kegiatan yang berakar pada pmbagian pekerjaan.  Karena dominasi politik mereka, sistem persepsi pria dominan, menghambat ekspresi bebas dari model alternatif wanita mengenai dunia.  Agar dapat berpartisipasi di masyarakat, wanita harus mentransformasi model merek sendiri sesuai dengan ekspresi pria yang diterima. Referensi • http://yearrypanji.wordpress.com • Pengantar Teori Komunikasi (analisis dan aplikasi), Richard West dan Lynn H. Turner